| 07 Sep 2010 11:09 PM |
| ||||||||||
![]() | |||||||||||
|
19 Jul 2010 05:07 AM Pengirim: bluesea "Bobotoh yang benar-benar BOBOTOH" Kita mesti bangga menjadi orang sunda dan memiliki klub seperti Persib. Menurut saya, Persib adalah klub terbaik dan terbesar di negeri ini dengan supporter terbesar dan tentunya paling fanatik. Dari anak-anak hingga orang tua yang berasal dari kampung terpencil hingga kota besar yang tersebar di seluruh penjuru Jawa Barat dan luar Jawa Barat sekalipun, semuanya pada tahu dan mencintai Persib. Mulai dari Viking, Bomber, dan masih banyak lagi yang tergabung dalam organisasi Bobotoh. Maka dari itu, saya yakin jika Bobotoh adalah supporter terbesar di negeri ini, bahkan di Asia sekalipun. Tapi saya heran ketika menyaksikan dari televisi siaran langsung Persib di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang Kab. Bandung. Saat itu adalah pertandingan besar, penuh sesak dan sorak sorai gemuruh mengiringi jalannya pertandingan tersebut. Hingga dapat dipastikan bahwa tak ada satu pun tempat duduk yang kosong, belum lagi ribuan bobotoh yang masih ada di luar stadion maupun di jalan-jalan hingga bisa di bayangkan betapa banyaknya jumlah bobotoh yang selalu hadir di setiap pertandingan Persib. Saat itu, komentator Antv mengomentari moment tersebut dan menyebutkan hasil surveinya (heran gimana cara surveinya) dan mengatakan bahwa Bobotoh adalah supporter ke-2 terbesar setelah Aremania. Bahkan, Persib berada di peringkat ke-3 di bawah Arema dan Persipura dengan jumlah penonton terbanyak yang hadir di setiap pertandingannya. Katanya, jumlah penonton Arema rata-rata 30 ribu orang setiap pertandingnnya. Arema Malang (bagi saya, Arema tetap Malang dan bukan Indonesia) adalah salah satu klub dari JawaTimur. Seperti yang kita ketahui, bahwa Jawa Timur adalah provinsi yang memiliki klub-klub terbanyak yang beredar di ISL. Ada Persebaya, Arema, Persema, Persela, Persik, Persijap, Deltras, dan yang lainnya. Tapi kenapa Arema penontonnya banyak ? Apakah karena perubahan nama dari “Malang” menjadi “Indonesia” yang memungkinkan setiap orang menjadi pendukung Arema ? Entahlah ! Dan Persipura adalah klub di ujung timur negeri ini. Meski harus berbagi dengan Persiwa yang juga merupakan wakil dari sana. Tapi kenapa penonton Persipura banyak ? Padahal, suasananya jauh berbeda dengan pulau Jawa dan supporter mereka selalu berselisih dengan supporter Wamena. Menurut saya, mungkin karena pertandingan Persipura yang jarang disiarkan langsung di televisi sehingga seluruh masyarakat berbondong-bondong ke stadion. Jadi seolah-olah seperti “pesta rakyat”. Lalu bagaimana dengan Persib ? Persib adalah aset dan satu-satunya wakil dari Jawa Barat, meskipun ada Pelita Jaya. Tapi kita sering tidak mengakuinya, karena Pelita hanya numpang dan sering berselisih jika kedua klub tersebut bertemu. Karena sudah beberapa kejadian yang akhirnya selalu merugikan Persib. Kenapa penonton Persib bisa kalah banyak dengan Arema ? Padahal Persib wakil dari “Provinsi” (Jawa Barat) sedangkan Arema wakil dari “Kota” (Malang) yang juga ada Persema. Menurut saya, ada beberapa faktor yang mempengaruhi hal tersebut : -Stadion Saya rasa, meskipun Persib memiliki Stadion sebesar GBK yang memiliki jumlah tempat duduk hampir 100 ribu orang, itu belum cukup di lihat dari animo bobotoh yang selalu ingin menyaksikan pertandingan Persib. Dan katanya, Stadion Gedebage hanya mampu hampir 70 ribu tempat duduk. Saya pikir akan melebihi jumlah tempat duduk yang ada di GBK, tapi sepertinya mustahil, di lihat dari peran pemerintah yang mengaggap sepak bola hanyalah menghambur-hamburkan uang rakyat. Tapi untuk saat ini, saya yakin jika Stadion Si Jalak Harupat lebih besar dibanding Stadion Kanjuruhan dan jumlah tempat duduknya juga lebih banyak, meskipun kebanyakan berdiri. -Tiket Inilah salah satu yang menjadi masalah mengapa penonton Persib berada di peringkat ke-3. Mungkin survei yang dilakuakan pihak Antv adalah dengan menghitung jumlah tiket yang terjual di setiap pertandingannya. Dan seperti yang kita ketahui bahwa hampir 30% bobotoh yang masuk ke stadion tanpa tiket. Makanya kita sering bingung, tiket terjual 25 ribu lembar tapi kenyataannya di dalam stadion bobotoh hampir 50 ribu orang lebih sehingga sampai membludak ke pinggir lapanagan. Tidak mungkin mereka dapat masuk dengan memanjat dinding stadion yang sangat tinggi. Seperti biasa, penyakit masyarakat masih menjalar. Diantaranya ada calo, oknum petugas tiket, oknum polisi (keamanan) dan oknum bobotoh. Saya mendukung program tiket melalui SMS, meskipun ada saja sedikit kebocoran. Karena memang sulit mencari jalan keluar kecuali ada kesadaran dari masing-masing pihak. -Siaran Langsung Hampir setiap pertandingan Persib disiarkan langsung di televisi. Sehingga kebanyakan bobotoh lebih senang menonton di layar kaca, di tambah faktor stadion yang tidak nyaman karena macet, penuh sesak, tidak bisa duduk, tiket mahal dan kadang juga tidak kelihatan karena tidak ada layar besar di stadionnya. -Sikap Bobotoh “Jangan bunuh klubmu dengan rasisme !!” Kata bijak itu sering kita dengar, tapi kenyataanya tetap saja bobotoh banyak yang berulah. Nyanyian rasis sering terdengar keras, apalagi di televisi yang di saksikan seluruh Indonesia. Makin buruk saja imej bobotoh. Saran saya, sebaiknya pada pertandingan besar dicoba untuk tidak ada dirigen supporter. Jadi kita bisa meminimalkan nyanyian rasis. Sebab, jika ada yang nyanyi rasis kita bisa tahu sumbernya dari mana. Dan makna supporter sudah hilang di mata bobotoh. Bukankah adanya bobotoh di stadion untuk mendukung pemain dan juga klub kesayangannya agar bermain dengan baik. Seharusnya memberi nyanyian penyamangat, tapi bobotoh malah meneriakan nyanyian rasis. Dan yang lebih anehnya, klub yang di hujat itu tidak sedang bertanding dengan Persib. Sehingga membuat para pemain menjadi tertekan, ketakutan dan menjadikan beban wajib menang di setiap pertandingan. Bukankah kita memimpikan menonton pertandingan Persib dengan duduk nyaman, aman, tertib, tanpa perlu ada pagar penghalang yang mengganggu pemandangan. Saya rindu bobotoh yang benar-benar bobotoh. Saya sangat iri melihat Arema juara. Bagaimana tidak, ciri khas warna biru kebanggaan kita harus rela dibagi. Meskipun Arema warna kaostimnya biru dongker, tapi masyarakat taunya biru. Dan banyak siaran di tv yang menyebutkan kalau “Malang menjadi Lautan Biru”. Sakit hati rasanya mendengar pernyataan itu. Padahal dari dulu, kita tahu jika biru adalah warna kebanggaan kita. Biru adalah Persib ! Persib adalah Lautan Biru ! Persib adalah Pangeran Biru ! Persib adalah Maung Biru ! Persib adalah Darah Biru ! Kapankah gelar itu akan kembali ?! Semoga saja dapat sesegera mungkin. Sebenarnya masih banyak lagi faktor yang mempengaruhi menurunnya reputasi bobotoh di mata masyarakat Indonesia. Barangkali di antara bobotoh sekalian ada yang mau menambahkan, silahkan. Saya tidak bermaksud menghina pihak manapun. Saya hanya ingin agar Persib menjadi lebih baik dan terus lebih baik. Terima kasih atas perhatiannya. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat dan menjadi pelajaran bagi bobotoh semuanya. Amien. Wasallam.
Komentar-Komentar lainnya... |
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Copyright @ 2001-2010 by BoTN dev team |